Selasa, 15 Januari 2013

Teori revolusi telah ada jauh sebelum teori darwin

Aku pernah berada dalam keadaan anorganik (mineral), dan mulai menerima pertumbuhan.
Kemudia aku mati sebagai tumbuhan dan menjadi hewan.
Aku mati sebagai hewan dan menjadi adam (manusia);
lalu mengapa aku harus takut, ketika maut menjemput ?
Pada perubahan berikutnya, aku mati sebagai manusia,
hingga aku naik dan menengadahkan wajahku bersama para malaikat.
Dan aku harus melepaskan diri (keadaan) malaikat:
"Segalanya akan musnah, kecuali wajah - Nya."
Sekali lagi aku harus berkorban dan meninggal sebagai malaikat:
aku akan menjadi sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kemudian aku menjadi ketiadaan.
Ketiadaan membisikkan di telingaku nyanyian merdu :
"Sesungguhnya kepada-Nya lah kita kembali"

(Jalal al - Din Rumi)

Tuan dan hamba

Namun Tuan si hamba telah memasang tangga di depan kakinya.
Selangkah demi selangkah kita harus naik hingga atap.
Menjadi Jabariyyah disini adalah tengggelam dalam harapan hampa.
Engkau punya kaki, mengapa dibiarkan lumpuh ?
Engkau punya tangan mengapa enggan direntang ?
Sesungguhnya ketika sang Tuan meletakkan sekop ditangan sang hamba,
ia harus tahu apa yang akan dilakukan,
sekalipun tidak sepatah kata keluar dari mulut sang Tuan ...

~ Jalalludin al-Din Rumi ~

Cinta


Janganlah kau letihkan dirimu
dengan perburuan tak pasti untuk
menemukan cinta yang sempurna.

Kesadaran mu yang dimabukkan
oleh lamunan cinta itu, akan semakin
terasing dari kenyataan hidup.

Ketahuilah …

Keindahan cinta hanya hinggap di hatimu,
jika engkau mencintai dia yang mencintaimu.

Janganlah berletih-hati
mencari yang terbaik untuk kau cintai.

Jadilah yang terbaik bagi yang mencintaimu.

- Mario Teguh -

Jalalludin al-Din Rumi

~ Begitulah Caranya ~

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada - Nya !
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan;
Karena Tuhan dengan Rahmat-Nya akan tetap menerima uang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja,

Begitulah caranya !

Wahai Pejalan !
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang, dan datang lagi !

Karena Tuhan telah berfirman :
" Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk kedalam jurang, Ingatlah kepada-KU
Karena AKU-LAH JALAN ITU "